Gunung Kelud, Eksotisme Danau Kawah dan Legenda Lembu Suro

Gunung Kelud

Nyero.ID – Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang.  Berjarak sekitar 27 Km di sebelah timur pusat kota Kediri, gunung yang menyajikan keindahan danau kawah ini memiliki ketinggian mencapai 1.731 Mdpl.

Letusan terakhir Gunung Kelud terjadi pada tahun 2014 dengan efek letusan yang cukup parah, dimana di beberapa wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan sebagian Jawa Barat tertutup oleh abu vulkanik dengan jarak pandang yang relatif pendek.  Akibatnya tujuh bandara yang berada di Surabaya, Malang, Yogyakarta, Surakarta, Cilacap, Semarang dan Bandung terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

Di balik letusannya yang dahsyat, keindahan alam di Gunung Kelud menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk mengunjunginya.  Di kawasan Gunung Kelud, pengunjung bisa menikmati keindahan kubah lava, gardu pandang di puncak Gajah Mungkur, jalur panjat tebing yang memacu adrenalin di puncak Sumbing, serta pemandian air panas dan flying fox yang menantang di area wisata Gunung Kelud.

Gunung Kelud dan Misteri Legenda Lembu Suro

Gunung Kelud atau dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah kelut bisa diartikan sebagai sapu, sementara dalam Bahasa Belanda dikenal dengan nama Klut, Cloot, Kloet atau Kloete.  Sedangkan dalam istilah Jarwodhosok, Kelud terdiri dari kata “ke” yang memiliki arti “kebak” dan “lud” atau “ludira”.  Sehingga istilah kelud memiliki arti bisa merenggut banyak korban yang tidak berdosa.

Gunung Kelud juga sering dikaitkan dengan legenda Lembu Suro, yaitu tokoh legenda berwujud manusia yang berkepala lembu.  Ada beberapa versi cerita yang beredar di masyarakat, diantaranya adalah sebagai berikut:

Konon Raja Brawijaya membuat sayembara, bagi siapapun yang berhasil merentangkan busur sakti Kyai Garudayeksa dan mengangkat gong Kyai Sekardelima, maka dia akan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Dyah Ayu Pusparini.  Adalah Lembu Suro, makhluk berwujud manusia berkepala kerbau yang berhasil memenangkan sayembara tersebut karena kesaktiannya.  Sehingga sang raja pun berniat menikahkan putrinya dengan Lembu Suro.

Namun sayangnya, sang putri enggan menerima Lembu Suro menjadi suaminya.  Sang putri pun mengakali Lembu Suro dengan memintanya membuat sumur di atas Gunung Kelud dalam waktu semalam.  Dengan kesaktiannya, Lembu Suro pun berhasil memenuhi permintaan sang putri.  Namun setelah galian sumur tersebut cukup dalam, para prajurit kerajaan justru menimbun tanahnya atas perintah sang putri sehingga Lembu Suro pun tertimbun di dalam sumur buatannya.

Mengetahui hal itu, Lembu Suro pun mengucapkan sumpahnya yang mengutuk penduduk di sekitar gunung, bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan yang sangat besar atas perilakunya.  Legenda yang telah ada secara turun temurun tersebut tetap dipercaya oleh masyarakat sekitar, sehingga ketika Gunung Kelud meletus maka hal itu disebabkan oleh adanya sumpah dari Lembu Suro.

Legenda lain yang juga dikaitkan dengan letusan Gunung Kelud adalah keberadaan keris Mpu Gandring yang telah menelan banyak korban, mulai dari pembuatnya sendiri yaitu Mpu Gandring, Ken Arok, Kebo Ijo, dan Anusapati.  Demi menghilangkan kutukan keris tersebut, Raja Hayam Wuruk pun memutus rantai kutukannya di kawah Gunung Kelud.

Pemandangan Gunung Kelud

Aura jahat dari keris Mpu Gandring diyakini menjadi penyebab letusan Gunung Kelud begitu dahsyat meskipun Gunung Kelud merupakan gunung berapi yang tidak terlalu tinggi.  Mitos lain yang berhubungan dengan Gunung Kelud adalah keberadaan buaya putih yang konon menjadi penunggu kawah di Gunung Kelud.

Selain legenda dan mitos, Gunung Kelud juga identik dengan ritual Wage Keramat yaitu pasaran dalam penanggalan Jawa yang dianggap berhubungan dengan meletusnya Gunung Kelud.  Ritual adat yang diselenggrakan setiap bulan Suro ini juga dimaksudkan untuk menolak bala dari sumpah Lembu Suro yang mengutuk penduduk di sekitar Gunung Kelud.  Sedangkan bagi umat Hindu, ritual tersebut merupakan simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Gunung Kelud juga sering dikaitkan dengan Ramalan Jayabaya yang melegenda terkait pergantian kekuasaan di Indonesia.  Dimana pada letusan pada tahun 1811 menjadi pertanda serbuan Inggris ke wilayah Indonesia, sementara letusan di tahun 1901 menjadi awal bagi pergerakan politik di Indonesia demikian juga dengan letusan di tahun 1919.  Sedangkan pada tahun 1966, letusan Gunung Kelud dianggap sebagai pertanda pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Jalur Pendakian Gunung Kelud

Keindahan alam di kawasan Gunung Kelud menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan untuk mengunjunginya.  Dari letusan yang pernah terjadi, Gunung Kelud memiliki tiga puncak yang mempesona keindahnnya.  Di sebelah timur ada Puncak Kelud, di sisi sebelah barat ada Puncak Gajah Mungkur dan si sebelah selatan ada Puncak Sumbing.

Untuk mencapai Puncak Gunung Kelud ada dua jalur pendakian yang bisa dipilih, yaitu melalui Tulungrejo dan melalui Karangrejo.  Kedua jalur pendakian tersebut bisa diakses dari kota Blitar, sementara untuk jalur wisatanya bisa melalui Desa Sugihwaras di wilayah Kediri.

Jalur pendakian melalui Tulungrejo bisa dimulai dari kota Blitar dengan mengambil jalan ke arah Wlingi, selanjutnya ke arah utara menuju Pasar Semen.  Setelah mencapai pertigaan bisa mengambil ke arah kiri hingga melewati perkebunan teh dengan jalanan yang cukup menanjak.  Setelah mencapai gapura Desa Tulungrejo, para pendaki akan menemukan masjid di kiri jalan.  Selanjutnya bisa memilih ke arah kiri lalu ke kanan dan lurus hingga mencapai rumah terakhir sebelum hutan pinus yang merupakan basecamp.

Pendakian dari basecamp ke Pos 1 bisa dimulai dengan melakukan registrasi terlebih dahulu.  Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan beraspal menuju ke lokasi hutan pinus.  Sebelum memasuki hutan pinus sudah ada penunjuk arah pendakian sehingga para pendaki bisa dengan mudah memulai pendakiannya.

Jalur Pendakian Gunung Kelud
Photo by @agus.ismawan

Kondisi jalan yang masih landai dengan tanjakan yang masih dalam batas kewajaran memudahkan pendaki untuk meneruskan perjalanan.  Jalur pendakian tampak masih menghijau dengan rimbunnya pepohonan dan rumpun bambu.  Jalur yang dilalui akan semakin menanjak dan menyempit hingga tiba di Pos 1.  Di lokasi ini para pendaki bisa sejenak beristirahat, bahkan bisa mendirikan tenda karena areanya masih cukup luas.

Dari Pos 1 menuju ke Pos 3, para pendaki akan menemui jalur yang menanjak dengan rimbunnya pepohonan di hutan yang berlumut.  Lokasi pendakian ini didominasi dengan jalur berupa jalan setapak dan sangat lembab, terutama jika di musim hujan.  Perlu diwaspadai adanya lintah dan pacet yang banyak ditemui di sepanjang perjalanan.

Tiba di Pos 3 para pendaki akan disuguhi dengan area terbuka dengan pemandangan alam yang sangat mempesona.  Lokasi ini bisa menjadi lokasi kemah bagi mereka yang ingin sejenak beristirahat dan menikmati keindahan sunset di sore hari.

Gunung Kelud
Photo by @achmadf_rozi

Dari Pos 3 menuju ke puncak Gunung Kelud, pendakian akan dilanjutkan dengan menyusuri padang ilalang yang cukup tinggi dengan jalur turunan yang cukup curam sehingga harus ekstra hati-hati.  Penggunaan alat tebas sangat diperlukan untuk membuka jalan karena jalur pendakian masih dipenuhi dengan semak-semak yang cukup tinggi dengan kondisi jalan tanah berbatu yang cukup sempit.

Mendekati ke puncak Gunung Kelud, para pendaki harus lebih berhati-hati karena medannya berupa tebing bebatuan dengan jurang di bawahnya.  Untuk mencapai puncak Gunung Kelud diperlukan waktu sekitar 10 menit dengan melewati dua tanjakan berbatu.  Dari puncaknya, akan terlihat bibir kawah Gunung Kelud yang memanjang dengan tebing tinggi di sisi sebelah kanannya (Puncak Sumbing).

Baca Juga:

Dari puncak ke lokasi kawah Gunung Kelud, para pendaki harus kembali turun ke jalur persimpangan kemudian mengikuti jalur ke arah tebing yang lumayan luas hingga mencapi kaki tebing.  Jalur menuju ke arah danau kawah sudah jelas dengan adanya penunjuk arah.  Di sepanjang jalur akan terlihat tebing-tebing dengan pemandangan pegunungan yang sangat eksotis memanjakan mata.

Tips Mendaki ke Puncak Gunung Kelud melalui Tulungrejo

  1. Untuk menghemat waktu dan tanaga bisa menggunakan jasa ojek sampai di depan lokasi hutan pinus. Bisa juga melakukan koordinasi untuk waktu penjemputannya di tempat yang sama.
  2. Sangat disarankan untuk membawa bekal air yang cukup karena tidak ada sumber air yang akan ditemui di sepanjang jalur pendakian.
  3. Sebaiknya menggunakan celana panjang dan kaus kaki untuk menghindari serangan lintah dan pacet yang cukup banyak ketika melewati Pos 1-3. Celana panjang juga akan menghindari resiko basah karena jalur vegetasi yang lebat dan basah akibat kabut pagi.
  4. Gunakan pelindung kepala untuk melindungi dari sengatan sinar matahari karena dari batas vegetasi tidak ada tempat yang teduh untuk berlindung.
  5. Sebaiknya membawa alat tebas yang akan sangat berguna ketika melewati vegetasi hutan yang cukup rapat dan semak belukar yang cukup tinggi.