Sarat Aura Mistis, Gunung Lawu Bisa Jadi Trek Pendakianmu Selanjutnya…

Gunung Lawu

Nyero.ID –  Gunung Lawu merupakan gunung berapi sudah lama tidak aktif, diperkirakan letusan terakhir terjadi pada tahun 1885 silam. Dengan ketinggian mencapai 3.265 Mdpl, Gunung Lawu termasuk salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa yang terletak di perbatasan tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah dan Kabupeten Magetan serta Ngawi, Jawa Timur.

Seperti halnya gunung padang dan gunung kelud maupun gunung lainnya di Indonesia, keberadaan Gunung Lawu juga sarat akan kisah legenda dan misteri.

Misteri dan Legenda Gunung Lawu

Legenda Gunung Lawu erat kaitannya dengan masa akhir Kerajaan Majapahit di tahun 1400 M yang berada di bawah kepemimpinan Prabu Brawijaya ke-5. Di akhir kejayaan Majapahit, Prabu Brawijaya bersemedi dan mendapatkan wangsit bahwasanya sudah tiba masanya bagi Kerajaan Majapahit untuk meredup kejayaannya dan wahyu kedaton akan segera berpindah ke Kerajaan Demak, yang dipimpin oleh Raden Fatah yang tak lain adalah putranya.

Ditemani oleh abdi setianya Sabdopalon, Prabu Brawijaya menuju ke Puncak Gunung Lawu.  Sebelum tiba di puncaknya, mereka bertemu dengan Dipa Menggala dan Wangsa Manggala yang merupakan kepala dusun di wilayah tersebut.

Akhirnya mereka bersama menuju ke puncak Lawu Harga Dalem, dan di puncak tersebut Dipa Menggala mendapatkan gelar Sunan Lawu. Dia diangkat sebagai penguasa Gunung Lawu yang menaungi semua makhluk gaib hingga ke wilayah Gunung Merapi, Merbabu, Wilis dan Pantai Selatan. Sementara Wangsa Menggala diangkat sebagai patih dengan gelar Kyai Jalak.

Sedangkan Sabdopalon meninggalkan Hargo Dalem menuju ke puncak Hargo Dumiling. Konon, Prabu Brawijaya muksa di Hargo Dalem sementara Sabdopalon moksa di Hargo Dumiling.  Sedangkan Sunan Lawu dan Kyai Jalak dikisahkan masih setia menjalankan amanat dan tugas yang diberikan oleh Prabu Brawijaya hingga saat ini.

Gunung Lawu diketahui memiliki tiga puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah yang masing-masing merupakan tempat dengan nuansa mistis yang kental. Puncak Gunung Lawu sering digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi dan meningkatkan kemampuan olah batin bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia supranatural. Terkait hal itu, ada semacam aturan tidak tertulis yang mengharuskan pengunjung di Gunung Lawu untuk menjaga perkataan dan perbuatannya agar tidak mengalami kendala yang tidak diinginkan.

Beberapa lokasi yang diyakini memiliki aura mistis oleh penduduk sekitar antara lain berada di Sendang Niten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Cakrasurya dan Pringgodani. Sendang Drajat merupakan sebuah sumber air berbentuk sumur dengan kedalaman sekitar dua meter.

Salah satu keunikan sumur ini adalah melimpahnya air yang tidak pernah surut meskipun berada di pencak gunung dan diambil terus menerus. Sedangkan sumur Jalatunda lebih menyerupai sebuah gua yang gelap dan curam. Gua ini banyak digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi. Konon dari lokasi ini seringkali terdengar gemuruh ombak pantai Laut Selatan padahal jika dinalar jaraknya berada ratusan kilometer dari puncak Lawu.

Misteri di Gunung Lawu juga erat kaitannya dengan keberadaan pasar Dieng atau lebih dikenal dengan istilah pasar setan yang terletak di Hargo Dalem. Pasar setan ini sudah sangat populer di kalangan para pendaki. Konon banyak pendaki yang mendengar suara-suara seperti halnya transaksi di sebuah pasar. Dan jika mendengar hal itu, maka disarankan untuk membuang salah satu barang bawaan seperti ketika melakukan barter atau membuang uang dalam jumlah berapapun serta memetik daun atau rerumputan seolah-olah sedang berbelanja di pasar.

Saat berada di Gunung Lawu, pengunjung juga diharapakan tidak banyak mengeluh karena apa yang dikeluhkan justru akan dirasakan lebih berat. Demikian juga ketika bertemu dengan kupu-kupu hitam dengan tanda bulatan biru pada sayapnya yang diyakini sebagai penerima tamu di Gunung Lawu. Sangat dilarang untuk mengganggu atau menyakiti kupu tersebut jika ingin perjalanannya selamat dan tidak mengalami kendala apapun.

Di gunung ini juga berlaku larangan tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau yang identik dengan penguasa Pantai Selatan.  Selain itu, juga ada semacam pantangan bagi pengunjung untuk tidak membawa rombongan dengan jumlah ganjil.

Objek Wisata Menarik di Sekitar Gunung Lawu

Selain aura mistis dan kisah misteri yang melekat, Gunung Lawu juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan menakjubkan. Berikut ini adalah beberapa objek wisata di sekitar Gunung Lawu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung:

  • Telaga Sarangan
  • Kawah Telaga Kuning
  • Kawah Telaga Lembung Selayur
  • Wisata alam di sekitar Gunung Lawu
  • Wisata di sekitar Desa Ngancar (Air Terjun Pundak Kiwo, Air Terjun Watu Ondo, Air Terjun Jarakan, Watu Ongko dan Pasir Emas).
  • Tawangmangu
  • Air Terjun Srambang
  • Cemoro Sewu
  • Candi Sukuh
  • Candi Cetho
  • Air Terjun Grojogan Sewu
  • Air Terjun Parang Ijo
  • Air terjun Pengantin
  • Air terjun Suwono
  • Kebun Teh Jamus
  • Watu Jonggol

Jalur Pendakian ke Puncak Gunung Lawu

Seperti yang telah disebutkan di atas, Gunung Lawu memiliki tiga puncak yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Dari ketiga puncak tersebut, Hargo Dumilah merupakan puncak tertinggi yang cukup menantang untuk ditaklukan. Untuk mencapai puncak Gunung Lawu ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih, yaitu:

Jalur Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur.

Jalur pendakian ini merupakan jalur paling favorit yang banyak dipilih ketika mendaki Gunung Lawu. Pasalnya jalur yang dilalui sudah tertata dengan rapi dan petunjuk jalannya pun jelas sehingga lebih nyaman untuk dilewati.

Pada jalur ini pangunjung akan melewati dua sumber mata air yaitu Sendang Drajat dan Sendang Panguripan. Di lokasi ini para pengunjung bisa mengisi bekal air sebelum melanjutkan perjalanan.  Untuk mencapai puncak tertinggi di Hargo Dumilah membutuhkan waktu sekitar 6 jam, dimana perjalanan akan melewati 5 pos dengan jalur yang semakin menanjak.

Jalur Cemoro Kandang, Karanganyar, Jawa Tengah.

Jika dibandingkan dengan jalur pendakian Cemoro Sewu, jalur pendakian ini relatif landai namun membutuhkan jarak tempuh yang lebih lama. Setidaknya ada 5 pos yang akan dilewati dalam perjalanan menuju ke puncak Gunung Lawu. Jalur ini juga sering digunakan oleh para peziarah yang ingin melakukan ritual di Gunung Lawu.

Pada jalur pendakian dari Pos 1 ke Pos 2 para pendaki akan menjumpai kawah Condrodimuko yang selalu menyemburkan asap dan aroma belerang.  Pos 2 ke Pos 3, para pendaki akan melewati sumber air, tebing batu yang cukup sempit serta menyusuri lereng Cokro Suryo.

Saat menyusuri jalur ini para pendaki harus ekstra hati-hati karena medan yang cenderung licin dan rawan longsor, terutama saat musim hujan. Sedangkan dari Pos 3 menuju Pos 4, para pendaki akan melewati sebuah sumber air yang dikenal dengan Sendang Panguripan.

Tempat ini merupakan salah satu lokasi yang dikeramatkan oleh warga sekitar sehingga tidak mengherankan jika sering dijumpai sesajen maupun bunga di lokasi ini. Meskipun jalur yang ditempuh cukup terjal, namun sepanjang perjalanan para pendaki akan dimanjakan dengan pemandangan berupa deretan bunga Edelweis di sepanjang lereng jalur pendakian.

Jalur pendakian menuju Pos 5  menyajikan pemandangan alam yang mempesona, mulai dari jalur bebatuan, padang Edelweis, padang rumput yang menghijau hingga penampakan beberapa puncak yang akan dituju.

Jalur Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah.

Dibandingkan dengan dua jalr sebelumnya, jalur pendakian Candi Cetho relatif lebih sepi. Hal ini bisa dimungkinkan karena jalur trecking yang ditempuh menuju puncak cukup lama, yaitu sekitar 12-15 jam dari basecamp menuju ke puncak Lawu Hargo Dumilah.

Meskipun jarak yang ditempuh lebih panjang namun pendakian melalui jalur ini menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan. Sehingga sangat rekomended bagi mereka yang hobby hunting spot foto dengan panorama eksotis.

Jalur Srambang, Ngawi, Jawa Timur.

Jalur Srambang terletak di desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo di wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di lokasi ini terdapat air terjun Srambang yang konon muncul akibat adanya longsoran tebing. Bagi para pecinta gunung yang ingin mencapai puncak melalui jalur alternatif, maka jalur Srambang ini patut dicoba.

Baca Juga:

Dari keempat jalur pendakian di atas, sesuaikan dengan situsasi dan kondisi yang sedang kamu alami, pilihlah lokasi terdekat dengan pertimbangan mudah dilalui, kecuali jika kamu menginginkan hal-hal menantang bisa memilih jalur sebaliknya.