Lawar Bali, Simbol Kebersamaan yang Menyatukan Perbedaan

Lawar Bali
Photo by @ajenganringbali

Nyero.ID – Lawar Bali merupakan makanan tradisional khas Bali yang lazim dihidangkan pada Hari Raya Galungan.  Makanan yang terbuat dari campuran sayur-sayuran dan daging cincang ini juga menjadi salah satu menu yang sering dihidangkan saat berkumpul bersama keluarga.

Tradisi lawar sendiri sangat erat kaitannya dengan kebersamaan dan menjadi simbol perbedaan yang menyatu.  Sajian lawar biasanya dihidangkan bersama kuah balung, tum, sate, komoh, serapah, kima dan juga nasi putih.

Asal Usul Tradisi Ngelawar di Bali

Tradisi lawar atau sering disebut dengan istilah ngelawar bisa diartikan sebagai kegiatan membuat sayuran dan makanan yang mengkombinasikan daging dan sayuran khas Bali.

Ngelawar berasal dari kata lawar yang artinya adalah campuran bumbu makanan.  Atau dengan kata lain ngelawar adalah tradisi meracik bumbu masakan Bali.

Tradisi ngelawar sudah berkembang sejak zaman kerajaan Bali dan merata di sekitar kerajaan karena Raja Bali sangat senang menikmati lawar.

Seluruh rangkaian ngelawar tertulis dalam lontar dharma caruban.  Dimana dalam pelaksanaanya ngelawar akan dipimpin oleh seorang ahli masak Bali yang pintar dalam mengolah bumbu makanan.

Lawar Bali menjadi salah satu menu yang wajib ada di setiap upacara keagamaan.  Selain itu lawar bisa ditemui di dalam pura, rumah masyarakat Bali, acara potong gigi, acara pernikahan, upacara kematian, dan upacara keagamaan lainnya.

Di dalam tradisi Bali, lawar juga lazim dilakukan pada saat upacara Panca Yadnya baik untuk persembahan maupun untuk dimakan.

Untuk keperluan persembahan, lawar matang akan diletakkan sesuai dengan empat arah mata angin.  Lawar erat kaitannya dengan catur dala yang merupakan representasi dari empat dewa di empat arah mata angin.

Yaitu lawar putih dari bahan kelapa berada di arah timur sebagai simbol Dewa Iswara dan lawar merah dari warna darah berada di arah selatan sebagai simbol Dewa Brahma.

Selanjutnya ada lawar kuning di arah barat sebagai simbol Dewa Mahadewa, lawar hitam atau jejeruk di arah utara sebagai simbol Dewa Wisnu, serta lawar lima campuran warna di tengah sebagai simbol Dewa Siwa.

Sedangkan dari segi rasa terdapat berbagai macam rasa yang menjadi simbol kehidupan.  Yaitu rasa manis dari gula merah, rasa asam dari buah asam, rasa asin dari garam, rasa pahit dan harum dari buah limau, pedas dari cabai dan aroma tidak sedap dari terasi.

Semuanya menjadi satu kesatuan rasa sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.  Satu kesatuan bahan dan bumbu yang dicampur menjadi simbol adanya perbedaan yang bisa disatukan dan saling melengkapi satu sama lain.

Meskipun lawar Bali menyajikan rasa yang lezat namun bagi orang tua yang sudah uzur diasarankan untuk mengurangi unsur daging pada lawar demi kesehatan dan sesuai ajaran agama Hindu.  Namun bagi yang masih muda, lawar diyakini bagus untuk meningkatkan energi.

Bahan Pembuatan Lawar

Pada dasarnya makanan khas Bali ini terbuat dari daging yang dicampur dengan sayuran.  Sedangkan bumbu yang digunakan adalah bumbu khas Bali yang disebut dengan bumbu genep atau bumbu lengkap.

Diantaranya adalah bawang putih, bawang merah, kencur, isen, jahe, sereh, cabe dan merica.  Lawar juga berisi parutan kelapa, daging, kacang panjang, dan nangka muda yang sudah direbus dan dipotong kecil-kecil.

Yang membuat lawar berbeda dari makanan lainnya adalah unsur darah yang digunakan dalam pembuatannya.  Lawar Bali menjadi menu yang berbeda karena menggunakan darah mentah dari daging hewan yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan lawar.

Jika dalam pembuatan lawar menggunakan dagin babi maka darah yang digunakan adalah darah babi.  Demikian juga ketika daging yang digunakan adalah daging ayam, maka darah yang digunakan adalah darah ayam.  Biasanya darah akan direbus terlebih dahulu sebelum digunakan untuk membuat lawar.

Ngelawar dan Megibung

Tradisi ngelawar merupakan acara pembuatan makanan.  Setelah melakukan ngelawar masyarakat Bali akan berpesta dan bersenang-senang, hal ini sudah sangat melekat dalam tradisi masyarakat Bali.

Tradisi menikmati lawar pada masyarakat Bali sering dilakukan secara bersama-sama atau dikenal dengan istilah megibung.

Megibung adalah cara menikmati makanan bersama-sama menggunakan alat makan yang terbuat dari anyaman bambu dengan beralaskan daun pisang.  Tradisi megibung banyak dilakukan masyarakat Bali di Kabupaten Bangli dan Karangasem.

Biasanya selain lawar Bali, makanan yang disajikan terdiri dari berbagai macam daging, sayur, sate, dan nasi putih.  Masing-masing hidangan di atas wadah anyaman bambu ini akan dinikmati oleh lima orang.

Dalam tradisi ini semua orang akan duduk bersama menikmati makanan dengan menggunakan tangan tanpa memandang status sosial ataupun kedudukan mereka di masyarakat.  Hal inilah yang menjadikan lawar sebagai simbol kebersamaan yang menyatukan perbedaan.

Meski begitu, di beberapa desa tradisi lawar banyak dilakukan secara bersama-sama namun pada saat memakannya mereka melakukannya sendiri-sendiri.

Jenis-jenis Lawar

Kuliner khas Bali lawar biasanya menggunakan daging ayam, babi dan bahkan ada juga yang menggunakan daging kerbau, penyu dan gurita.  Lawar Bali banyak dijumpai dalam upacara keagamaan masyarakat Bali, baik kegiatan Dewa Yadnya maupun Manusa Yadnya.

Dalam proses pembuatannya, lawar menggunakan bumbu genep atau bumbu lengkap khas Bali sehingga menghasilkan cita rasa dan aroma yang berbeda.

Berdasarkan bahan dan warnanya, lawar dibedakan menjadi beberapa jenis seperti berikut:

  • Lawar merah

Yaitu lawar yang menggunakan darah dalam pembuatannya sehingga lawar yang dihasilkan berwarna merah.  Pada lawar ini darah yang digunakan adalah darah ayam atau babi yang masih mentah, tergantung dari daging yang akan digunakan untuk membuat lawar.

  • Lawar putih

Yaitu lawar yang dibuat tanpa menggunakan darah, dimana bahan pembuatannya adalah kelapa parut.  Jenis lawar ini biasa digunakan sebagai sarana upakara dan bisa menggunakan dagin ayam atau babi.

  • Lawar Blimbing

Yaitu lawar yang menggunakan kelapa parut dan daun blimbing yang sudah direbus.  Daun blimbing kemudian ditiriskan baru kemudian dicincang dan dicampur bumbu serta daging.

  • Lawar Isi

Yaitu lawar yang hanya menggunakan bahan daging saja tanpa ada campuran kelapa parut maupun bahan sayuran lainnya.

  • Lawar Bungkil

Yaitu jenis lawar yang dalam pembuatannya menggunakan bahan tunas pisang biji atau biu batu sebagai pengganti kelapa.  Bungkil sebelumnya direbus dan dicincang, sementara daging dan bumbunya sama dengan jenis lawar lainnya.

  • Lawar Nangka

Yaitu lawar yang menggunakan nangka muda sebagai salah satu bahan dalam pembuatannya.  Nangka yang sudah direbus kemudian dicincang dan dicampur dengan bumbu dan daging.

  • Lawar Klungah

Yaitu jenis lawar yang menggunakan batok kelapa yang masih muda.  Klungah dicincang dan kemudian dicampur dengan bumbu dan daging.

  • Lawar Gedang

Yaitu jenis lawar yang menggunakan bahan pepaya muda sebagai pengganti kelapa.  Pepaya muda yang sudah direbus kemudian dicincang dan dicampur bumbu serta daging.

  • Lawar Klendung

Yaitu jenis lawar Bali yang bahannya menggunakan klendung atau kacang panjang.  Dalam proses pembuatannya, kacang panjang direbus setengah matang kemudian dipotong kecil-kecil dan digunakan sebagai campuran lawar.

  • Lawar Padamare

Yaitu jenis lawar yang warnanya setengah putih dan setengah merah atau campuran dari beberapa jenis lawar.

  • Lawar Siap

Yaitu jenis lawar yang dalam pembuatannya menggunakan bahan daging ayam.

  • Lawar Celeng

Yaitu jenis lawar Bali yang dalam pembuatannya menggunakan bahan daging babi.

Adanya campuran bahan berupa darah dan daging babi pada lawar Bali membuat makanan ini tidak halal bagi muslim.  Namun begitu, ada juga menu lawar halal yang terbuat daging ayam, daging sapi atau daging bebek sebagai pengganti daging babi.