Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, Menelusuri Jejak Sejarah Seni Rupa di Indonesia

Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta
Photo by @aryawrdhana

Nyero.ID – Museum Seni Rupa dan Keramik bisa menjadi tujuan wisata seni dan edukasi yang sangat menarik untuk acara liburan keluarga.  Di museum ini pengunjung bisa menikmati berbagai macam koleksi benda seni dengan berbagai latar belakang sejarah dan kisah di dalamnya.

Museum ini memiliki sejarah yang cukup panjang sebelum dikenal sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik seperti saat ini.  Gedung museum ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1870.  Pada awalnya gedung difungsikan sebagai Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Batavia).

Pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan RI tahun 1944, gedung ini digunakan oleh tentara KNIL dan selanjutnya digunakan sebagai asrama militer oleh TNI.  Kemudian di tahun 1967, gedung dialihfungsikan sebagai Kantor Walikota Jakarta Barat.

Sementara pada periode tahun 1968-1975 gedung bersejarah ini pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.  Pada tanggal 10 Januari 1972, gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah dan cagar budaya yang dilindungi.  Gedung ini kemudian diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 Agustus 1976.

Pada 10 Juni 1977, di gedung ini diresmikan Museum Keramik oleh Ali Sadikin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.  Sejak tahun 1990 hingga saat ini gedung ini kemudian dikenal sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.

Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi benda seni, dimana beberapa diantaranya merupakan koleksi yang sangat penting dalam sejarah seni rupa di Indonesia.

Bagi sobat Nyero yang ingin mengisi waktu liburan dengan wisata seni dan edukasi di Museum Seni Rupa dan Keramik, berikut ini adalah beberapa informasi mengenai harga tiket masuk, jam buka, fasilitas, daya tarik, dan lokasi yang perlu diketahui.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Museum Seni Rupa dan Keramik sangatlah terjangkau, yaitu sebesar Rp 2.000 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk mahasiswa.  Sementara untuk anak-anak dan rombongan dengan jumlah minimal 20 orang dikenakan harga tiket masuk yang lebih murah lagi.

Jam Buka

Museum Seni Rupa dan Keramik buka setiap hari Selasa – Minggu mulai pukul 09.00 WIB – 15.00 WIB sementara untuk hari Senin dan hari besar museum tutup.

Fasilitas

Fasilitas yang tersedia di Museum Seni Rupa dan Keramik sudah cukup memadai sehingga akan memberikan kenyamanan tersendiri bagi wisatawan yang datang.  Fasilitas yang tersedia antara lain adalah area parkir, mushola, toko souvenir hingga toilet.

Gedung museum juga dilengkapi dengan fasilitas berupa ruang pertemuan atau aula, ruang terbuka dan taman yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan pameran, pernikahan, seminar, lomba dll.  Selain itu juga terdapat perpustakaan yang menyimpan berbagai macam buku-buku tentang seni rupa dan keramik yang bisa dijadikan referensi.

Daya Tarik

Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki gaya arsitektur Eropa dengan nuansa klasik dan megah di dalamnya.  Gedung peninggalan Belanda ini dilengkapi dengan 8 pilar besar dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada di Kawasan Kota Tua menyimpan berbagai macam koleksi benda seni dengan daya tariknya masing-masing.  Setidaknya ada sekitar 500-an karya seni yang disimpan di museum ini yang terdiri dari berbagai macam bahan dan teknik pembuatan.  Mulai dari lukisan, patung, totem kayu, grafis, skesta dan batik tulis.

Dari sekian banyak koleksi yang ada, beberapa diantaranya merupakan koleksi benda seni yang sangat penting dalam sejarah seni rupa di Indonesia.  Diantaranya adalah lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan, lukisan Bupati Cianjur karya Raden Saleh, lukisan Ibu Menyusui karya Dullah, lukisan Seiko karya S. Sudjojono dan Potret Diri karya Affandi.

Secara umum koleksi seni lukis di Museum Seni Rupa dan Keramik dibagi menjadi beberapa ruangan sesuai periodenya.  Yaitu Ruang Masa Raden Saleh (1880-1890), Ruang Masa Hindia Jelita (1920-an), Ruang Persegi (1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (1942-1945), Ruang Pendirian Sanggar (1945-1950), Ruang Sekitar kelahiran Akademis (1950-an), dan Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (1960-an sampai sekarang).

Karya lainnya adalah patung dengan ciri klasik tradisional Bali seperti totem kayu dengan nuansa magis karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya.  Totem dan patung kayu karya seniman-seniman modern seperti G. Sidharta, Oesman Effendi, hingga karya-karya seniman lulusan akademis seperti Popo Iskandar, Achmad Sadali, Fajar Sidik, Amri Yahya, dll.

Selain menyimpan karya seni rupa yang sangat lengkap, di museum ini juga terdapat koleksi keramik dalam jumlah yang cukup banyak, mulai dari keramik lokal hingga keramik asing.  Koleksi keramik lokal di museum ini berasal dari Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok, dll.

Koleksi keramik yang cukup menarik perhatian adalah keramik yang berasal dari zaman Majapahit pada abad ke-14.  Keramik ini memiliki bentuk yang unik dan indah dengan nilai historis di dalamnya.

Sementara keramik lainnya berasal dari negara lain yang memiliki ciri khas masing-masing dengan bentuk dan karakteristik tertentu.  Koleksi keramik asing berasal dari China yang kebanyakan merupakan peninggalan Dinasti Ming dan Ching.  Koleksi keramik lainnya berasal dari Thailand, Vietnam, Jepang, dan Eropa dari abad ke-16 hingga awal abad ke-20.

Selain menikmati berbagai macam karya seni rupa dan keramik, di Museum Seni Rupa dan Keramik ini terdapat studio gerabah yang dibuka untuk pelajar dan masyarakat umum.  Di studio ini pengunjung bisa belajar membuat gerabah dengan beberapa teknik seperti pinching, cetak dan roda putar.

Di museum ini pengunjung juga bisa mengeksplorasi beberapa sudut yang ada untuk diabadikan dalam bidikan kamera.  Setelah berkeliling museum dan berfoto-foto, tidak ada salahnya jika singgah sejenak ke toko souvenir yang menyediakan berbagai macam cenderamata.  Mulai dari kartu pos, barang kerajinan, buku seni rupa, lukisan, sketsa, keramik, dll.

Lokasi museum yang berada di kawasan Kota Tua menjadi daya tarik tersendiri karena pengunjung bisa sekalian mengunjungi beberapa tempat bersejarah lainnya di kawasan ini.  Dua diantaranya adalah Museum Sejarah Jakarta dan Museum Wayang.

Museum Sejarah Jakarta hanya berjarak sekitar 550 meter dari Museum Seni Rupa dan Keramik sehingga bisa ditempuh dalam waktu 3 menit saja.  Di Museum Sejarah Jakarta pengunjung akan diajak untuk mengetahui lebih jauh perjalanan panjang sejarah Kota Jakarta, sejak zaman pra sejarah hingga masa kini dengan konsep yang lebih rekreatif.

Museum lainnya yang berdekatan dengan Museum Seni Rupa dan keramik adalah Museum Wayang yang jaraknya sekitar 350 meter dan bisa ditempuh dalam waktu 2 menit saja.  Sesuai dengan namanya, museum ini menyimpan berbagai macam koleksi wayang dari nusantara dan juga mancanegara.

Baca Juga: Museum Bahari Jakarta, Mengenal Sejarah Kemaritiman dan Bahari di Masa Silam

Lokasi

Lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik berada di Jalan Pos Kota No. 2, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat.   Lokasinya yang berdekatan dengan beberapa museum bersejarah lainnya di Kota Tua sangat mudah untuk diakses, baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan transportasi umum.  Untuk mengetahui rute selengkapnya silahkan gunakan Google Maps di bawah ini.