Nama Rumah Adat Jawa Barat Beserta Gambar & Penjelasannya

Rumah Adat Jawa Barat
Julang Ngapak taken by @rezckyn

Nyero.ID – Dikenal dengan sebutan Tanah Pasundan, Jawa Barat memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang cukup beragam. Mulai dari kesenian jaipong, wayang golek, angklung, degung, sisingaan, dll, berbagai macam lagu daerah dan juga kekayaan kuliner yang menggugah selera.

Seperti wilayah lainnya di Indonesia, Jawa Barat juga memiliki rumah adat yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Sunda. Rumah adat di Jawa Barat memiliki bentuk dan gaya arsitektur yang khas, yaitu menyerupai rumah panggung. Pada rumah adat ini terdapat tangga yang terbuat dari bambu atau kayu yang dikenal dengan istilah golodog, biasanya tidak lebih dari 3 anak tangga saja.

Jika dilihat dari pondasinya, rumah adat di Jawa Barat menggunakan umpak, dimana kolom bangunan hanya diletakkan pada batu datar yang sudah terbentuk secara alami. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya keretakan pada kolom bangunan saat terjadi bencana gempa.

Adapun penggunaan anyaman bambu pada dinding rumah bertujuan untuk menyerap dan mengurangi efek panas sinar matahari. Selain itu konstruksi dinding bambu yang ringan juga memungkinkan terjadinya sirkulasi udara dengan baik.

Demikian juga dengan penggunaan jendela yang selalu terbuka dan daun pintu hanya ditutup dengan kisi-kisi bambu sehingga membuat suasana di dalam rumah tetap sejuk dan nyaman.

Pada bagian atap, rumah adat Jawa Barat menggunakan material ijuk karena dianggap mampu menyerap panas dengan baik. Sementara pada sisi depan, tritisannya memiliki panjang hingga 2 meter sehingga dinding rumah tidak langsung terkena sinar matahari.

Dari segi filosofi, rumah adat Jawa Barat memiliki makna yang sangat mengagumkan. Penggunaan material alam sebagai bahan untuk pembangunan rumah merupakan salah satu cara menghargai alam di sekitarnya. Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan penggunaan material bangunan modern, seperti misalnya paku besi.

Sebagai penguat dan perekat antar tiang, biasanya menggunakan paseuk dari bambu atau tali dari ijuk maupun sabut kelapa. Demikian juga dengan atapnya yang menggunakan daun rumbia, daun kelapa ataupun ijuk.

Rumah adat di Jawa Barat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

Imah Badak Heuay

Rumah adat jenis ini masih banyak dijumpai di daerah Sukabumi, terutama di wilayah pedesaan. Ciri khas rumah adat ini terletak pada bentuk atapnya, dimana bagian atap belakang melewati tepian. Jika dilihat secara seksama bentuk rumah ini menyerupai badak yang sedang menguap.

Rumah Tagog Anjing

Rumah adat ini memiliki bentuk menyerupai anjing yang sedang duduk sehingga dikenal dengan istilah tagog anjing dalam Bahasa Sunda. Atapnya terdiri dari dua bagian yang menyatu dengan bentuk segitiga.

Sedangkan pada atap yang lain menyambung menjadi satu pada bagian depan, atau dikenal dengan istilah soronday. Biasanya atap ini berfungsi sebagai pelindung bagian teras sehingga mampu memberikan kesan yang lebih teduh dan sejuk.

Rumah ini memiliki kesan klasik dan terlihat sangat sederhana. Desain rumah ini menjadi salah satu ciri khas bentuk rumah di daerah Garut, Jawa Barat. Dengan kesan yang begitu klasik banyak hotel, villa, maupun restoran yang menggunakan konsep desain atap seperti pada rumah adat ini.

Imah Julang Ngapak

Bentuk rumah adat ini memiliki desain atap yang melebar pada setiap sisinya, itulah mengapa rumah ini dikenal dengan mana Imah Julang Ngapak, yang bermakna burung yang sedang mengepakkan sayapnya. Sebagai pelengkap, biasanya terdapat capit hurang atau cagak gunting pada bagian bubungannya.

Meskipun atap rumah terbuat dari bahan ijuk, rumbia ataupun alang-alang namun tampilannya tetap bagus dan rapat sehingga tidak mudah bocor. Rumah adat ini lazim ditemukan di wilayah Tasikmalaya. Menariknya lagi, konsep desain atap Imah Julang Ngapak diaplikasikan pada Gedung ITB sehingga bangunannya terlihat unik.

Imah Jolopong

Imah Jolopong memiliki makna “terkulai”. Hal ini terlihat pada bentuk atapnya yang seolah tergolek lurus. Bentuk atap seperti pelana yang memanjang terlihat sangat sederhana tanpa adanya kombinasi lekukan yang rumit. Desain rumah adat ini sangat populer di Jawa Barat dan paling banyak diminati karena lebih mudah untuk dibuat.

Desain Jolopong sendiri memiliki dua bidang atap yang dipisahkan oleh jalur suhunan pada bagian tengah bangunan rumah.

Rumah adat ini terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya adalah emper atau tepas yang digunakan untuk menerima tamu, ruangan tengah atau patengahan, ruang samping atau pangkeng yang digunakan sebagai kamar, ruang belakang atau pawon yang digunakan sebagai dapur dan juga ruangan untuk menyimpan beras atau padaringan.

Imah Perahu Kumureb

Memiliki arti perahu tengkurap, jenis rumah adat ini terdiri dari empat bagian utama dimana pada bagian depan dan belakang berbentuk trapesium. Sedangkan pada bagian kiri dan kanan berbentuk segitiga sama sisi. Sekilas bentuk rumah adat ini memang seperti perahu terbalik ala legenda Tangkuban Perahu.

Desain rumah dengan banyak sambungan pada atap ini jarang diminati karena mudah bocor. Meski begitu, beberapa masyarakat di Ciamis masih menggunakan desain atap seperti ini.

Imah Capit Gunting

Disebut dengan capit gunting, rumah adat ini memiliki desain atap yang cukup unik dan berbeda dari biasanya. Dimana bagian atap pada ujung depan dan belakang menggunakan kayu atau bambu dengan bentuk yang menyilang meyerupai gunting, sehingga terlihat sangat unik.

Rumah Adat Saung Ranggon

Jenis rumah adat ini terletak di tengah ladang dan berfungsi sebagai tempat untuk menunggu padi atau tanaman palawija yang akan dipanen. Biasanya saung ranggong memiliki ketinggian sekitar 3-4 meter yang dimaksudkan untuk menghindari serangan binatang buas.

Rumah Adat Kasepuhan

Rumah adat jenis ini lebih dikenal dengan Keraton Kasepuhan yang didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana, yang merupakan putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Bangunan keraton ini memiliki beberapa bagian utama, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pintu Gerbang Utama, yang terdiri dari dua bagian. Yaitu bagian utara yang dikenal dengan nama Lawang Sanga dan bagian selatan yang disebut Kreteg Pangrawit.

Bangunan Pancaratna, yang memiliki fungsi utama sebagai tempat untuk menghadap para pembesar desa yang nantinya akan diterima oleh seorang demang atau wedana. Bangunan ini terletak di sebelah kiri bagian depan kompleks.

Bangunan Pangrawit atau Pancaniti, yang berfungsi sebagai tempat untuk latihan prajurit keraton, tempat beristirahat, dan pengadilan. Letaknya berada di sebelah kiri depan kompleks menghadap ke arah utara.

Adapun kompleks dalam keraton terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

Halaman Pertama yang merupakan kompleks Siti Inggil, di dalamnya terdapat beberapa bangunan. Yaitu Mande Pendawa Lima, Mande Malang Semirang, Mande Semar Timandu, Mande Karesmen, Mande Pangiring, dan Mande Pengada.

Halaman Kedua yang terdiri dari Halaman Pengada dan Halaman Kompleks Langgar Agung.

Sementara Halaman Ketiga yang merupakan kompleks inti Keraton Kasepuhan terdiri dari Taman Bunderan Dewandaru, Museum Benda Kuno, Museum Kereta, Tunggu Manunggal, Lunjuk, Sri Manganti, Bangunan Induk Keraton, Kuncung dan Kutagara Wadasan, Jinem Pangrawit, Gajah Nguling, Bangsal Pringgandani, Bangsal Prabayasa, Bangsal Agung Panembahan, Pungkuran, Bangunan Dapur Maulud, dan Pamburatan.

Baca: Nama Rumah Adat Papua Beserta Gambar & Penjelasannya