Nama Rumah Adat Jawa Tengah Beserta Gambar & Penjelasannya

Rumah Adat Jawa Tengah
Pendopo Anjungan taken by @amyalanam231496

Nyero.ID – Jika berbicara tentang rumah adat Jawa Tengah tentu yang terlintas adalah bentuk rumah Joglo dengan gaya arsitekturnya yang khas. Meskipun jumlah rumah adat ini semakin sedikit seiring dengan perkembangan zaman, namun beberapa tempat seperti hotel, restoran, dan ruangan publik lainnya masih banyak yang mengadaptasi konsep rumah joglo pada bentuk bangunannya.

Nama rumah adat Joglo merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “tajug” dan “loro” yang memiliki arti menggabungkan dua tajug dengan atap menyerupai piramid. Pemilihan atap berbentuk tajug tidak terlepas dari makna filosofi di dalamnya, dimana bentuknya hampir sama dengan gunung yang dianggap sebagai tempat sakral bagi masyarakat Jawa zaman dulu.

Bentuk bangunan yang unik dan artistik menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang sehingga tetap mempertahankan konsep rumah joglo sebagai salah satu warisan bidaya yang harus dilestarikan.

Meskipun terkenal dengan rumah joglo-nya, namun sebenarnya di Jawa Tengah terdapat jenis rumah adat lainnya yang tidak kalah populer. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah ulasan tentang beberapa jenis rumah adat di Jawa Tengah.

Rumah Joglo

Rumah adat Jawa Tengah ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat. Konon hanya kaum bangsawan atau orang terpandang saja yang membangun rumah jenis ini. Dengan kata lain, rumah joglo menjadi simbol status sosial pemiliknya.

Rumah Joglo dibuat dengan susunan kayu yang tertata secara proporsional dan memiliki struktur yang penuh makna. Dimana arsitektur rumah Joglo menjadi simbol atau gambaran dari kehidupan dan aktivitas masyarakat Jawa.

Pada Rumah Joglo terdapat pager mangkok yang bukan terbuat dari bambu atau kayu melainkan dari tamanan perdu dengan ketinggian tidak lebih dari 1 meter. Hal ini dimaksudkan bahwa rumah menjadi tempat untuk saling berbaur dengan masyarakat sehingga tidak perlu dipagari.

Rumah Joglo terbagi menjadi beberapa ruangan, diantaranya yaitu:

Pendopo yang letaknya di bagian depan dan digunakan untuk menerima tamu. Ruangan ini juga sering dimanfaatkan sebagai tempat untuk pagelaran wayang kulit dan upacara adat. Dengan konsep yang terbuka, pendopo menjadi simbol keterbukaan dan kewibawaan.

Pringgitan yang berada di bagian tengah dan terletak diantara pendopo dan omah njero, biasanya digunakan untuk menerima tamu tetapi yang masih ada hubungan kekerabatan.

Omah Ndalem atau omah njero, sering disebut juga dengan ndalem ageng. Ruangan ini digunakan untuk berkumpulnya anggota keluarga.

Padepokan yang digunakan untuk menenangkan diri, beribadah, dan melakukan ritual lainnya yang dianggap sakral.

Pada bangunan rumah joglo terdapat 4 soko guru atau pilar utama yang menjadi simbol arah mata angin, sementara pintu rumah berjumlah 3 yang terletak di tengah, samping kiri dan samping kanan. Posisi pintu pada bagian tengah dibuat sejajar dengan ruangan belakang sehingga ruangan belakang bisa langsung terlihat dari depan.

Letak pintu pada bagian tengah juga memiliki makna bahwa masyarakat Jawa senantiasa terbuka dan dengan senang hati menerima tamu yang datang ke rumah.

Selain pintu, Rumah Jogla juga dilengkapi dengan jendela yang banyak dan besar baik di bagian depan maupun belakang. Hal ini dimaksudkan agar udara segar bisa masuk ke dalam rumah sehingga suasana rumah tetap sejuk dan nyaman.

Berdasarkan bentuk atapnya, rumah joglo dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

Joglo Mangkurat, dengan ciri khas memiliki atap bersusun tiga, dimana pada atap utama atau yang paling atas memiliki proporsi yang lebih besar dan lebih tinggi.

Joglo Pangrawit, bentuknya hampir sama dengan Joglo Mangkurat hanya saja pada bagian atap utama memiliki proporsi yang lebih kecil dan panjang dengan bumbungan lebih pendek.

Joglo Hageng, dengan ciri khas memiliki bidang atap yang relatif lebih luas dengan prosporsi atap utama dan dua atap di bawahnya lebih pendek dan landai. Bangunannya lebih besar dan luas dengan ciri atap tritisan keliling yang juga luas.

Joglo Sinom, yang memiliki bentuk atap tritisan seperti Joglo Hageng namun bangunannya relatif lebih kecil dengan proporsi atap utama lebih tinggi.

Joglo Lawakan, dengan ciri khas memiliki atap bersusun dua dan tampilan yang lebih sederhana. Pada bagian atap utama terlihat lebih runcing sementara pada atap bagian bawahnya lebih landai dan melebar.

Joglo Jompongan, dengan ciri khas memiliki atap bersusun dua dan bumbungan atap memanjang ke samping kanan dan kiri. Sementara bentuk lantai menyerupai bujur sangkar dan tidak banyak ditemui ornamen pada bagian atapnya.

Joglo Semar Tinandhu, dengan ciri khas menggunakan dinding sebagai tiang penyangga bangunan dan bukan menggunakan kayu seperti joglo pada umumnya.

Rumah Panggang Pe

Jenis rumah adat ini memiliki jumlah tiang empat atau enam dengan komposisi separuh tiang pada bagian depan lebih pendek. Rumah adat ini konon digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus untuk berjualan.

Ada beberapa jenis Rumah Panggang Pe, yaitu gedhang salirang, empak setangkep, dan gedhang setangkep yang menggabungkan dua rumah menjadi satu. Serta cere gancet, trajumas, dan barengan.

Jenis rumah adat ini masih bisa ditemui hingga saat ini, khususnya di wilayah Jawa Tengah yang berbatasan dengan DIY.

Rumah Tajug

Rumah adat di Jawa Tengah ini biasanya difungsikan sebagai tempat ibadah sehingga orang biasa tidak diperbolehkan membangun rumah jenis ini. Salah satu ciri khas rumah ini adalah bentuk atap yang runcing pada bagian ujung. Rumah Tajug ada beberapa jenis, diantaranya adalah semar sinongsong, lambang sari, semar tinandhu, dan mangkurat.

Salah satu contoh Rumah Tajug yang masih bisa ditemui hingga saat ini adalah bangunan Masjid Agung Demak yang merupakan peninggalan Walisongo pada masa Kerajaan Demak.

Rumah Limasan

Disebut dengan limasan karena rumah adat Jawa Tengah ini memiliki bentuk atap menyerupai limas. Salah satu ciri khas Rumah Limasan adalah memiliki konstruksi atap yang kokoh dengan bentuk lengkungan-lengkungan yang terpisah antara satu ruangan dengan ruang lainnya.

Rumah Limasan terdiri dari empat buah atap, yaitu dua atap yang disebut kejen atau cocor dengan bentuk segitiga sama kaki seperti atap keyong. Dan dua atap yang disebut bronjong dengan bentuk menyerupai jajaran genjang sama kaki.

Ada beberapa tipe limasan yang ada di masyarakat, yaitu semar pindohong, gajah mungkur, klabang nyander, dan limasan lawakan.

Rumah Kampung

Jenis rumah adat ini masih bisa ditemui di masyarakat hingga saat ini meskipun kadang sudah dimodifikasi dengan model baru yang lebih modern. Rumah Kampung merupakan jenis rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat biasa. Bangunan pokok dari rumah ini memiliki tiang penyangga dengan jumlah 4, 6, 8, dan seterusnya karena bisa dibuat memanjang sesuai keinginan pemilik rumah.

Bentuk Rumah Kampung hampir sama dengan dua Rumah Panggang Pe yang disatukan. Salah satu ciri khasnya adalah keberadaan dua teras rumah di depan dan di belakang. Sementara untuk jenis atau tipe-nya terbagi ke dalam 13 jenis. Diantaranya adalah kampung pokok, pacul gowang, dara gepak, gajah ngombe, dll.