Nama Rumah Adat Jawa Timur Beserta Gambar & Penjelasannya

Rumah Adat Jawa Timur
Photo by @gambarkeren

Nyero.ID – Provinsi di bagian timur Pulau Jawa ini memiliki wilayah paling luas diantara enam provinsi lainnya di Pulau Jawa. Ibukota dari Provinsi Jawa Timur terletak di Surabaya dan menjadi kota terbesar kedua setelah Jakarta.

Berbicara tentang Jawa Timur tentu tidak terlepas dari kesenian dan budaya daerahnya yang begitu terkenal. Sebut saja kesenian Ludruk yang sarat akan humornya, Reog Ponorogo, lagu Rek Ayo Rek” yang begitu melegenda, dll yang turut memperkaya seni budaya bangsa.

Selain kesenian yang cukup beragam, Jawa Timur juga memiliki rumah adat dengan gaya arsitekturnya yang khas. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah ulasan tentang beberapa nama rumah adat di Jawa Timur.

Rumah Joglo

Rumah adat ini memiliki bentuk dan desain yang mirip dengan rumah adat di Jawa Tengah dengan atap besar sebagai ciri khasnya. Bentuk atap yang besar menjadi simbol layaknya gunung sehingga mampu memberikan kesan yang megah. Selain itu, gunung juga bisa diartikan sebagai kedudukan yang dianggap tinggi dan sakral. Atap rumah Joglo dikenal dengan istilah tajug.

Pada zaman dahulu rumah joglo hanya dimiliki oleh para bangsawan dan digunakan untuk menerima banyak tamu. Rumah ini juga sekaligus menjadi simbol status sosial seseorang. Lebih dari itu, rumah joglo juga menjadi sebuah perwujudan dari diri manusia yang harus bisa berbaur dengan alam sekitarnya.

Rumah Joglo memiliki beberapa ciri khas, diantaranya adalah terbuat dari bahan kayu jati dan pada bagian atap berbentuk limas yang mengerucut seperti gunung.

Rumah Joglo memiliki beberapa bagian di dalamnya, yaitu:

Pendopo, yang memiliki konsep terbuka sebagai simbol penyatuan manusia dengan alam sekitarnya. Fungsi pendopo adalah sebagai tempat untuk menerima tamu, upacara adat, pertemuan, dan pagelaran kesenian maupun hiburan.

Pringgitan, yang merupakan penghubung antara pendopo dan ruangan di dalam rumah. Bagian ini biasanya sering digunakan untuk menggelar pertunjukan wayang kulit.

Omah Njero, yang merupakan bagian utama atau inti dari Rumah Joglo. Fungsinya adalah sebagai tempat untuk berkumpul dan bersantai anggota keluarga.

Senthong, yang merupakan ruangan atau kamar untuk beristirahat keluarga pemilik rumah.

Ruangan ini masih terbagi menjadi 3, yaitu:

Senthong Tengen yang letaknya di bagian kanan dan biasanya digunakan untuk kamar keluarga atau anak-anak.

Senthong Kiwo yang letaknya di bagian kiri dan digunakan untuk kamar orang tua atau kerabat yang sudah sepuh. Senthong Kiwo ini biasanya terhubung dengan ruangan di belakang yang memisahkan dengan dapur.

Senthong Tengah yang dianggap sebagai tempat sakral, biasanya diberikan penerangan lampu atau pelita yang terus menyala sepanjang waktu. Di dalamnya terdapat hiasan berupa tanduk binatang seperti rusa, cermin, dan juga keris.

Gandhok, yang merupakan bangunan tambahan di bagian belakang dengan bentuk memanjang. Biasanya digunakan sebagai ruangan untuk menyimpan bahan makanan dan barang.

Rumah Joglo terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Joglo Sinom, yang memiliki 36 pilar dan 4 soko guru. Bangunan rumah memiliki konsep teras keliling dan pada masing-masing puncak dari keempat sisinya didesain dengan konsep yang tinggi dan bertingkat.

Joglo Pangrawit, yang memiliki desain lebih rumit dibandingkan Joglo Sinom. Jumlah pilarnya lebih banyak dengan halaman yang luas. Atapnya tinggi menjulang dan mengerucut, dimana di setiap sudutnya memiliki pilar.

Joglo Hageng, yang memiliki desain rumit, banyak pilar dan halaman luas. Atap rumahnya relatif tumpul dan ukuran ruangannya lebih pendek.

Joglo Situbondo, yang banyak di temui di daerah Situbondo dan Ponorogo. Bangunannya sangat kokoh dengan material kayu jati murni sebagai bahan dasar bangunan. Meskipun terkesan sederhana, namun jenis rumah ini memiliki nilai estetika yang cukup tinggi.

Bagian-bagian pada bangunan rumah adat ini memiliki makna filosofi tersendiri. Seperti misalnya pada bagian pintu masuk yang terdapat ornamen hiasan pada bagian atasnya. Selain memberikan kesan yang lebih indah, hiasan tersebut juga berfungsi sebagai penolak bala

Rumah Adat Using

Rumah adat ini terdapat di daerah Banyuwangi, Jawa Timur dan masih bisa dijumpai di Desa Kemiren dengan beberapa model rumah di dalamnya. Seperti Tikel Balung, Baresan, dan Cerocogan.

Ketiga bangunan ini dibedakan berdasarkan jumlah rab atau bidang penutup atapnya. Tikel Balung memiliki empat rab, Baresan memiliki tiga rab, dan Cerocogan memiliki dua rab.

Baresan sendiri tidak bisa dikatakan sebagai satu unit rumah karena biasanya hanya merupakan tambahan bangunan. Dalam hal ini pembagian ruangannya disesuaikan dengan jumlah orang yang menghuni rumah.

Bentuk atap pada rumah ini menunjukkan simbol strata sosial pemiliknya, dimana rumah dengan struktur desain yang lengkap meliputi Tikel Balung, Baresan, dan Cerocogan atau bahkan lebih banyak, maka bisa dipastikan bahwa pemilik rumah adalah orang yang terpandang.

Struktur Rumah Adat Using terdiri dari sangga tepas, gelandar, saka, ubag, ampig-ampig, jait cendhek, jait dhawa, doplak, suwunan, ander, penglari, reng, dan dhur.

Pada bagian samping dan belakang rumah menggunakan dinding bambu atau gedheg pipil, sementara pada bagian depan menggunakan gebyok kayu. Salah satu keunikan rumah adat ini adalah konstruksi bangunan yang mudah dibongkar pasang dan tanpa menggunakan paku. Penyatuan rangka bangunan rumah menggunakan sasak pipih atau yang dikenal dengan sebutan paju.

Adapun pembagian ruangannya tetap sama. Yaitu terdiri dari amper atau bagian depan rumah, hek/bale yang merupakan ruang tamu dan ruang untuk kegiatan adat, njerumah atau jero omah sebagai tempat untuk melakukan aktivitas pribadi pemilik rumah, pawon atau dapur, dan ampok yang letaknya di kanan kiri rumah. Biasanya untuk masuk ke dapur, tamu melewati samping rumah tanpa harus masuk ke dalam rumah.

Rumah Adat Suku Tengger

Berada di lereng Gunung Bromo, rumah adat ini memiliki ciri khas berupa susunan papan atau batang kayu dengan bubungan atap yang cukup tinggi. Hanya ada satu atau dua jendela saja, dan biasanya terdapat bale-bale untuk tempat duduk di bagian depan rumah.

Biasanya rumah adat Suku Tengger dibuat bergerombol dengan hanya dipisahkan oleh jalur sempit untuk pejalan kaki. Hal ini dimaksudkan untuk menghalau angin dan cuaca yang cukup ekstrem.
Rumah adat ini masih bisa dijumpai di Dusun Seruni, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Rumah Adat Dhurung

Rumah adat khas Bawean ini masih bisa ditemui di beberapa wilayah seperti di Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Bangunan rumahnya berbentuk seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu atau bambu namun tanpa dilengkapi dinding. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat untuk beristirahat dan menghilangkan penat setelah bekerja di sawah atau ladang.

Rumah adat ini terletak di samping atau depan rumah dan sering digunakan sebagai tempat untuk berkumpul atau bersosialisasi oleh masyarakat. Terdapat ornamen ukiran pada bangunan ini dengan corak yang khas dan unik.

Pada rumah adat Dhurung yang besar bukan hanya digunakan untuk berkumpul saja tetapi juga sebagai lumbung padi. Karena difungsikan sebagai lumbung padi, maka di sekitar rumah Dhurung biasanya dilengkapi dengan jhelepeng, yaitu semacam jebakan yang tidak bisa dilewati oleh tikus.