Nama Rumah Adat Padang Beserta Gambar & Penjelasannya…

Rumah Adat Padang
Rumah Gadang taken by @najwa_kamila_212

Nyero.ID – Berbicara tentang Padang tentu kita akan langsung teringat dengan cita rasa masakan Padang yang menggugah selera, salah satu kekayaan kuliner yang begitu mendunia dengan menu rendangnya. Jika diamati, restoran Padang biasanya ditandai dengan bentuk bangunannya yang bergaya Rumah Gadang atau simbol berupa gambar Rumah Gadang pada kaca etalasenya.

Rumah Gadang memang merupakan rumah adat khas Minangkabau yang banyak dijumpai di Sumatera Barat, dan menjadi salah satu ikon budaya provinsi tersebut. Rumah Gadang atau dikenal juga dengan istilah rumah Godang, rumah Bagonjong, atau rumah Baanjuang memiliki gaya arsitektur yang khas dengan bentuk desainnya yang unik.

Rumah Gadang biasanya dibangun di atas lahan milik keluarga induk yang telah diwariskan secara turun temurun oleh kaum perempuan. Hal ini tidak terlepas dari sistem kekerabatan matrilineal yang dianut oleh masyarakat setempat. Dimana ketentuan adat mengikuti alur keturunan yang berasal dari pihak ibu.

Rumah Gadang merupakan rumah adat Padang yang memiliki bentuk rumah panggung persegi panjang dengan ukuran yang cukup besar. Salah satu ciri khas dari rumah adat ini adalah bentuk atapnya yang unik dengan lengkungan dan sudut lancip menyerupai tanduk kerbau. Biasanya jumlah lengkungan terdiri dari empat atau enam dengan satu lengkungan ke arah depan.

Seperti jenis rumah adat lainnya, rumah Gadang juga terbuat dari material yang berasal dari alam. Meskipun menggunakan bahan-bahan yang hampir 100% dari alam, namun bangunan rumah adat ini sangat kokoh dan tahan gempa.

Hal ini dikarenakan kondisi tiang penyangga pada rumah Gadang tidak menancap di tanah melainkan bertumpu pada batu-batu berbentuk datar di atas tanah. Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gempa sehingga rumah akan berayun atau bergerak mengikuti getaran gempa.

Selain itu penggunaan pasak pada bangunan rumah yang berfungsi untuk menyatukan tiang dan kaso besar membuat kondisi rumah Gadang lebih fleksibel mengikuti arah getaran gempa sehingga bangunan rumah bisa tetap berdiri kokoh.

Berdasarkan fungsinya, rumah Gadang bukan hanya digunakan sebagai tempat tinggal saja tetapi juga sebagai tempat untuk musyawarah keluarga, tempat menyelenggarakan upacara adat, sekaligus sebagai representasi dari sistem kekerabatan matrilineal di wilayah tersebut.

Ada banyak makna filosofi yang tersimpan dalam desain rumah Gadang. Seperti misalnya atap yang berbentuk runcing dianggap sebagai sebuah simbol pengharapan kepada Tuhan. Ada pula yang beranggapan bahwa bentuk atap runcing sebagai simbol tanduk kerbau, pucuk rebung, kapal, dan juga bukit. Tanduk kerbau sendiri memiliki makna kemenangan dan seringkali dikaitkan dengan kisah Tambo Alam Minangkabau.

Adapun struktur bangunan rumah Gadang terdiri dari beberapa unsur, yaitu:

Gonjong atau struktur atap yang bentuknya runcing seperti tanduk kerbau. Singkok atau dinding segitiga yang letaknya berada di bawah ujung gonjong. Pereng yang merupakan rak di bawah singkok.

Anjuang yang merupakan lantai mengambang, dindiang ari atau dinding yang terletak di bagian samping. Dindiang tapi yang terletak di bagian depan dan belakang. Papan banyak, papan sekapiang, dan juga salangko atau dinding untuk ruangan di bawah rumah.

Pada bagian pilar atau tiang penyangga biasanya disusun dalam lima baris dengan posisi berjajar sepanjang rumah. Baris ini membagi bagian di dalam rumah atau interiornya menjadi empat ruang panjang yang dikenal dengan istilah lanjar. Sementara lanjar pada bagian belakang rumah dibagi menjadi beberapa kamar tidur.

Jumlah kamar pada rumah Gadang tergantung dari jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Lanjar lainnya digunakan sebagai tempat untuk kegiatan sehari-hari atau upacara adat yang dikenal dengan istilah labuah gajah.

Dengan bentuk persegi panjang, rumah Gadang terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian depan dan belakang. Dinding rumah pada bagian depan biasanya dibuat dari material papan kayu sementara untuk bagian belakang mengunakan material bambu.

Pemasangan papan kayu untuk dinding rumah dilakukan secara vertikal dan diberikan ukiran dengan motif tertentu yang penempatannya tergantung pada susunan dan letak papan kayu pada dinding. Biasanya motif-motif tersebut didominasi dengan warna merah, hitam, dan kuning.

Motif ukiran pada rumah Gadang sangat identik dengan simbol-simbol alam dengan ragam hias berbentuk garis melingkar atau persegi. Hal ini tidak terlepas dari falsafah hidup masyarakat Minang yang bersumber dari alam, “alam takambang jadi guru”.

Rumah Gadang juga dilengkapi dengan lumbung padi yang dikenal dengan sebutan rangkiang dengan nama dan fungsi yang berbeda. Diantaranya adalah rangkiang sitinjau lauik yang berfungsi sebagai tempat menyimpan beras untuk keperluan upacara adat.

Ada juga rangkiang sitangka lapa yang digunakan sebagai tempat menyimpan beras untuk keperluan sumbangan bagi desa miskin. Serta rangkiang sibayau-bayau yang digunakan sebagai tempat menyimpan beras untuk kebutuhan sehari-hari.

Rumah Gadang dikelompokkan menjadi Rumah Gadang Kota Piliang dan Rumah Gadang Bodi Chaniago. Perbedaannya terletak pada keberadaan anjungan dan serambi, dimana Rumah Gadang Kota Piliang memiliki anjungan dan serambi sementara Rumah Gadang Bodi Chaniago tidak. Anjungan sendiri diartikan sebagai tempat yang terhormat dalam sebuah rumah dengan posisi lantai ditinggikan dari permukaan lantai bangunan.

Rumah Gadang juga terbagi menjadi beberapa jenis seperti berikut:

Rumah Gadang Gajah Maharam yang memiliki karakteristik bangunan mewah dan megah dengan penggunaan material kayu pada keseluruhan bangunannya. Rumah adat ini harus dibangun dengan posisi menghadap ke utara dengan dinding sebelah timur, barat dan selatan ditutup sasak.

Rumah ini memiliki 30 tiang penyangga dan 5 buah gonjong. Dimana 4 buah gonjong berada di bagian atap dan 1 buah di bagian depan rumah yang berfungsi sebagai pelindung tangga. Adanya ragam hiasan motif ukiran yang menghiasi rumah membuat rumah ini terlihat semakin indah.

Rumah Gadang Gonjong Limo, bentuknya hampir menyerupai Rumah Gadang Gajah Maharam namun tidak ditambah ajung. Rumah adat ini terdapat di Kota Payakumbuh, Padang, Sumatera Barat.

Rumah Gadang Surambi Papek yang mempunyai ciri khas pengakhiran di kiri dan kanan bangunan yang dikenal dengan sebutan “bapamokok” atau papek. Rumah adat ini biasanya menempatkan pintu masuk di bagian belakang rumah sebagai perlambang bahwa pemilik rumah adalah perempuan dan menantu laki-laki hanya menumpang. Meski begitu beberapa rumah adat ada juga yang menempatkan pintu masuk di bagian depan rumah.

Rumah Gadang Batingkek yang memiliki ciri khas bangunan rumah adat bertingkat dengan jumlah gonjong 4 buah. Rumah adat ini bisa ditemukan di sekitar wilayah Singkarak, Kabupaten Solok.

Berdasarkan jumlah atap bagonjongnya, rumah Gadang dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:

Rumah Gadang Bagonjong Dua yang difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga, Rumah Gadang Bagonjong Empat yang merupakan tempat tinggal kaum keturunan ninik mamak penyandang gelar Sako Datuak Penghulu.

Rumah Gadang Bagonjong Lima yang difungsikan sebagai tempat tinggal dan upacara adat. Jenis rumah ini merupakan milik kaum penyandang gelar Sako Datuak Penghulu Kepala Paruik. Rumah Gadang Bagonjong Enam yang merupakan milik Datuak Penghulu Kepala Suku, keturunan bangsawan, dan pegawai adat.

Rumah Bagonjong Delapan yang merupakan milik kaum keturunan bangsawan setingkat menteri pembantu raja alam. Rumah Gadang Panjang yang memiliki tangga lebih dari satu. Bangunan istana yang memiliki enam gonjong dengan tambahan dua gonjong paranginan. Serta Rumah Gadang di rantau yang bentuknya memanjang ke arah belakang.

Baca: Nama Rumah Adat Lampung Beserta Gambar & Penjelasannya…