Nama Rumah Adat Papua Beserta Gambar & Penjelasannya

Rumah Adat Papua
Rumah kaki Seribu taken by @genpi_papuabarat

Nyero-ID – Berbatasan dengan negera Papua Nugini, Papua terkenal dengan kekayaan budaya dan adat istiadat yang masih lestari hingga saat ini. Provinsi yang didiami oleh beberapa suku ini memiliki rumah adat yang begitu unik dengan gaya arsitekturnya yang khas dari masing-masing suku.

Salah satu rumah adat yang sangat terkenal di Papua adalah Honai, yang merupakan tempat tinggal Suku Dani. Istilah Honai sendiri berasal dari kata “hun” yang berarti laki-laki dan “ai” yang berarti rumah. Dengan kata lain, Honai merupakan rumah yang biasa dihuni oleh kaum laki-laki.

Jenis rumah adat ini memiliki dinding yang terbuat dari kayu dengan atap jerami yang bentuknya mengerucut seperti jamur. Bentuk atap demikian dimaksudkan untuk melindungi dinding rumah dari air hujan sekaligus untuk mengantisipasi hawa dingin dari lingkungan di sekitarnya. Karena biasanya Honai banyak ditemui di wilayah pegunungan maupun lembah.

Salah satu ciri khas rumah Honai adalah tidak adanya jendela dan hanya memiliki satu pintu. Bangunan rumah dengan ketinggian 2,5 meter ini memiliki ruangan yang relatif sempit dengan luas sekitar 5 meter saja. Tujuannya adalah untuk menahan suhu dingin di alam pegunungan.

Sementara pada bagian tengah terdapat sebuah lingkaran yang digunakan sebagai tempat perapian, fungsinya untuk penerangan dan menghangatkan diri.

Rumah Honai terdiri dari dua ruangan, yaitu lantai bawah yang digunakan untuk berkumpul maupun beraktivitas. Adapun bagian paling bawah rumah Honai biasanya digunakan untuk menyimpan jasad yang telah diawetkan atau mumi, benda-benda warisan leluhur, dan peralatan perang.

Sementara lantai atas digunakan sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat. Sebagai alas tidurnya, biasanya masyarakat menggunakan rumput yang sudah dikeringkan.

Walaupun rumah adat di wilayah Provinsi Papua Barat disebut sebagai Honai namun ada juga Suku Arfak di wilayah Papua Barat yang membangun Mod Aki Aksa atau rumah kaki seribu. Rumah adat ini memiliki ciri khas berupa banyaknya tiang penyangga pada bagian bawah rumah, sehingga dikenal dengan sebutan rumah kaki seribu.

Selain rumah Honai, berikut ini adalah beberapa jenis rumah adat yang ada di Papua:

Ebai

Berasal dari kata “ebe” yang berarti tubuh dan “ai” yang berarti rumah. Dalam hal ini wanita dianggap sebagai simbol tempat tinggal bagi kehidupan. Ebai menjadi tempat tinggal bagi kaum wanita dan anak-anak, mulai dari ibu-ibu, anak perempuan dan juga anak laki-laki. Dimana ketika anak laki-laki beranjak dewasa maka akan tinggal ke rumah Honai.

Ebai juga berfungsi sebagai tempat untuk mendidik anak perempuan tentang hal-hal yang akan dilakukan ketika menikah.

Rumah adat ini memiliki bentuk yang mirip dengan Honai namun ukurannya relatif lebih pendek dan kecil. Biasanya terletak di samping kanan atau kiri Honai dengan posisi pintu yang tidak sejajar dengan pintu utama.

Wamai

Pada dasarnya wamai merupakan tempat atau kandang yang digunakan untuk hewan ternak maupun peliharaan, seperti ayam, anjing, babi, dll. Rumah untuk ternak ini terletak jauh dari pemukiman, namun berdekatan dengan wamai lainnya. Bentuknya cukup fleksibel dengan ukuran yang bervariasi sesuai jenis dan banyaknya hewan ternak yang dimiliki.

Kariwari

Rumah adat Kariwari adalah tempat tinggal bagi Suku Tobati-Enggros yang mendiami Teluk Yotefa dan tepi Danau Sentani, Jayapura. Rumah adat ini khusus ditinggali oleh anak laki-laki yang telah berusia sekitar 12 tahun. Fungsinya adalah sebagai tempat untuk mendidik anak laki-laki. Anak laki-laki dididik untuk menjadi pria yang memiliki keberanian dan bertanggungjawab. Beberapa hal yang diajarkan biasanya seputar cara berperang, membuat perahu, memahat, dan membuat senjata.

Rumah adat Kariwari memiliki bentuk yang khas menyerupai limas segi delapan dengan atap berbentuk kerucut. Bentuk rumah yang demikian dimaksudkan agar mampu menahan hembusan angin, sementara atap yang mengerucut menjadi simbol untuk mendekatkan diri kepada leluhur.

Pada rumah adat ini juga terdapat hiasan-hiasan yang sangat identik dengan budaya Papua.
Rumah Kariwari terdiri dari 3 lantai. Lantainya terbuat dari lapisan kulit kayu dan dindingnya dari cacahan pohon bambu air, sedangkan atapnya terbuat dari daun sagu. Sementara di dalamnya terdapat kayu besi yang berfungsi sebagai penopang dan mengikat satu sama lain agar tidak terbawa angin.

Lantai paling bawah pada rumah ini berfungsi sebagai tempat belajar bagi remaja laki-laki. Lantai kedua digunakan sebagai tempat pertemuan para kepala suku dan tempat tidur kaum laki-laki. Sementara lantai ketiga digunakan sebagai tempat untuk berdo’a dan meditasi.

Rumsram

Rumsram merupakan rumah adat Suku Biak Numfor di Pantai Utara Papua yang digunakan sebagai tempat untuk mendidik anak laki-laki. Rumah ini memiliki bentuk persegi seperti rumah panggung dengan bagian atap yang bentuknya mirip perahu terbalik. Bentuk atap demikian menandakan bahwa mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai nelayan.

Rumah adat ini memiliki ketinggian sekitar 6-8 meter dan terdiri dari dua tingkat. Pada lantai pertama tidak memiliki dinding dan cenderung terbuka. Biasanya difungsikan sebagai tempat untuk mendidik anak laki-laki membuat perahu, memahat, membuat perisai, dll.

Rumah adat Rumsram memiliki dua buah pintu yang terletak pada bagian depan dan belakang serta beberapa jendela. Pada bagian lantai terbuat dari kulit kayu dan dindingnya terbuat dari cacahan pohon bambu. Sementara atapnya terbuat dari daun sagu.

Selain beberapa rumah adat di atas, ada juga rumah pohon milik Suku Korowai yang unik dan dikenal dengan sebutan Rumah Tinggi. Bukan tanpa alasan rumah ini disebut sebagai rumah tinggi, karena letaknya memang di atas pohon dengan ketinggian sekitar 30-50 meter di atas permukaan tanah.

Suku Korowai yang berada di pedalaman Papua Barat ini membangun rumah pohon yang begitu tinggi dengan alasan untuk menghindari serangan binatang buas, nyamuk, dan menghindari serangan roh-roh jahat. Selain itu, bangunan rumah tinggi merupakan warisan dari leluhur sehingga mampu memberikan kenyamanan tersendiri meskipun harus bersusah payah untuk mencapainya.

Pemilihan pohon untuk membangun rumah pun tidak boleh sembarangan, hanya pohon yang besar dan kokoh saja yang cocok digunakan sebagai pondasi rumah. Proses pembangunan rumah menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam tanpa bantuan alat modern apapun.

Sebelum proses pembuatan rumah berlangsung, biasanya Suku Korowai akan melakukan ritual adat terlebih dahulu untuk mengusir roh jahat. Setiap bidang tanah yang telah bersih terdapat dua-tiga rumah pohon dengan tangga yang terbuat dari ranting dan tali.

Rumah pohon Suku Korowai menggunakan batang-batang kayu kecil sebagai kerangkanya, sementara dinding dan atapnya menggunakan kulit pohon sagu dan dedaunan hutan. Biasanya rumah pohon ini memiliki ukuran sekitar 7×10 meter, dimana untuk rumah dengan ukuran besar memiliki penyekat ruangan dan pintu yang berbentuk runcing. Satu pintu untuk penghuni pria sementara pintu yang lain untuk wanita.

Meskipun berada di atas pohon, rumah ini juga dilengkapi dengan perapian yang terbuat dari tanah liat dengan cara digantungkan di atas ruangan terbuka. Hal ini bertujuan agar perapian mudah dipotong dan bisa segera dibuang jika bara apinya terlalu besar. Sehingga tidak menyebabkan kerusakan di dalam rumah.

Baca: Nama Rumah Adat Bali Beserta Gambar & Penjelasannya